Bangga! Guru MIS Nurul Siti Aisyah Ishak, Pak Tri, Terlibat dalam Jambore 100 Tahun Gontor

 GURU MIS NSAI   –

Momen bersejarah peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2025 menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia. Salah satunya datang dari seorang guru MIS Nurul Siti Aisyah Ishak, yang akrab disapa Pak Tri, setelah dirinya resmi ditunjuk menjadi panitia Jambore Pramuka Muslim Internasional pertama di dunia yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

Perhelatan akbar Jambore 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Cibubur 2025 menjadi momentum bersejarah, tidak hanya bagi dunia pramuka Muslim, tetapi juga bagi para pendidik yang ikut berperan di dalamnya. Salah satu sosok yang patut diapresiasi adalah Pak Tri, guru MIS Nurul Siti Aisyah Ishak, yang dipercaya menjadi bagian dari panitia besar kegiatan internasional tersebut.

Keterlibatan Pak Tri bukan hanya sebuah amanah, tetapi juga wujud nyata kontribusi seorang pendidik dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan. Kehadirannya di jajaran panitia menunjukkan bahwa guru tidak hanya berperan di ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat dan kegiatan internasional yang berdampak luas.

“Ini sebuah kebanggaan tersendiri bisa ikut serta dalam momen besar 100 tahun Gontor. Bagi saya, ini bukan sekadar kegiatan pramuka, tetapi wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meneguhkan nilai-nilai kepemimpinan bagi generasi penerus,” ujar Pak Tri dengan penuh semangat.

Jambore yang akan dihadiri ribuan peserta dari dalam dan luar negeri ini dipandang sebagai ajang silaturahmi, kolaborasi, sekaligus refleksi perjalanan panjang Gontor dalam mencetak kader bangsa. Keikutsertaan Pak Tri menjadi kebanggaan tersendiri bagi MIS Nurul Siti Aisyah Ishak, sekaligus motivasi bagi guru-guru lain untuk terus berkontribusi dalam pembangunan pendidikan dan moral generasi muda.

Pak Tri mengaku merasa bangga sekaligus terhormat bisa menjadi bagian dari penyelenggaraan acara akbar tersebut. “Ini bukan hanya tentang Gontor, tetapi juga tentang kebangkitan semangat kepramukaan Muslim yang berakar pada nilai-nilai pendidikan dan persaudaraan. Saya merasa ini amanah besar,” ujarnya.

Jambore 100 Tahun Gontor ini rencananya akan dihadiri ribuan peserta pramuka dari berbagai negara. Acara tersebut tidak hanya menampilkan kegiatan kepramukaan, tetapi juga pameran budaya, kajian kepemimpinan, hingga forum internasional yang membahas kontribusi pramuka dalam membangun generasi muda Muslim.

Keterlibatan Pak Tri sebagai panitia menjadi kebanggaan tersendiri bagi MIS Nurul Siti Aisyah Ishak. Pihak sekolah menilai hal ini sebagai bukti nyata bahwa dedikasi seorang guru tidak hanya memberi manfaat di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu memberikan kontribusi besar di tingkat nasional dan bahkan internasional.

“Semoga keikutsertaan beliau bisa menjadi inspirasi bagi para murid dan guru lainnya, bahwa mengabdi lewat pendidikan dan organisasi bisa membuka jalan untuk berkontribusi lebih luas bagi umat,” ungkap salah satu rekan guru.

Dengan terlibatnya sosok pendidik seperti Pak Tri, Jambore 100 Tahun Gontor diharapkan semakin berkesan dan mampu melahirkan semangat baru bagi gerakan pramuka Muslim, baik di Indonesia maupun dunia.

Sehari-hari, Pak Tri dikenal sebagai guru yang tekun dan penuh perhatian kepada siswanya. Baginya, pendidikan bukan hanya soal mengajar mata pelajaran, melainkan juga menanamkan nilai-nilai disiplin, kemandirian, dan kepemimpinan. Semangat itu pula yang membawanya dipercaya menjadi panitia jambore tahun ini.

Kata Pak Tri “Sejak dulu saya percaya pramuka adalah wadah terbaik untuk menempa karakter anak bangsa. Karena itu saya merasa terhormat bisa terlibat langsung di Jambore 2025,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Bagi murid-muridnya, keterlibatan sang guru di jambore adalah sumber inspirasi. Mereka melihat gurunya bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga turun langsung mengabdi di tingkat nasional.

Di tengah hiruk pikuk kegiatan jambore yang penuh kreativitas, pelatihan, dan kebersamaan, kehadiran MIS Nurul Siti Aisyah Ishak menjadi pengingat bahwa seorang guru sejati tak pernah berhenti mendidik, di manapun ia berada.

Komentar

Postingan Populer