Bengkulu: Sakit Fisik, Dua Terganggu Mental
Bengkulu –
Permasalahan kesehatan di Bengkulu kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan peningkatan kasus penyakit fisik dan gangguan mental di masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mencatat, selain penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes yang masih tinggi, jumlah warga yang mengalami gangguan mental juga mengalami tren kenaikan.Menurut laporan resmi, tercatat ribuan pasien berobat akibat sakit fisik, sementara dua di antaranya terkonfirmasi mengalami gangguan kejiwaan serius. Fenomena ini menandakan adanya beban ganda kesehatan masyarakat, yakni penyakit fisik yang menggerogoti tubuh sekaligus masalah mental yang melemahkan daya tahan psikologis.
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu, [nama pejabat jika ada], mengatakan meningkatnya gangguan mental erat kaitannya dengan tekanan sosial dan ekonomi pasca-pandemi. “Kami tidak hanya menghadapi penyakit menular dan tidak menular, tapi juga tantangan kesehatan jiwa. Dua pasien yang tercatat mengalami gangguan mental sedang dalam penanganan intensif di rumah sakit jiwa,” ujarnya, Senin (16/9/2025).
Sakit Fisik Meningkat, Gaya Hidup Jadi Pemicu
Penyakit fisik seperti hipertensi, jantung, dan diabetes mendominasi kasus rawat jalan maupun rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan. Pola makan tidak sehat, kurang olahraga, serta tingginya konsumsi makanan instan disebut sebagai pemicu utama.
Seorang warga Kota Bengkulu, Siti (45), mengaku harus rutin memeriksakan diri karena menderita tekanan darah tinggi. “Awalnya sering pusing dan gampang lelah. Setelah dicek ternyata darah tinggi. Sekarang saya harus jaga makan,” ujarnya.
Gangguan Mental, Masalah yang Mulai Mengkhawatirkan
Selain penyakit fisik, gangguan mental mulai banyak teridentifikasi. Dua kasus terbaru yang menonjol adalah depresi berat dan skizofrenia. Keduanya kini ditangani tim medis dan psikolog.
Menurut catatan WHO, setiap orang berisiko mengalami masalah kesehatan mental akibat tekanan hidup. Di Bengkulu, faktor ekonomi, pengangguran, serta lemahnya dukungan sosial menjadi pemicu yang cukup signifikan.
“Gangguan mental bukan aib. Justru harus segera ditangani agar tidak semakin parah. Keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam mendukung pemulihan,” kata dr. Rini, seorang psikiater di Bengkulu.
Upaya Pemerintah dan Harapan Warga
Dinas Kesehatan Bengkulu kini memperkuat program promotif dan preventif. Selain memperbanyak penyuluhan tentang gaya hidup sehat, pemerintah juga membuka layanan konseling psikologis di puskesmas.
Warga berharap perhatian pemerintah tidak hanya sebatas data dan laporan, tetapi juga aksi nyata. “Kalau ada posko kesehatan mental di setiap kecamatan, mungkin orang akan lebih mudah mencari bantuan,” kata Rudi (30), warga lain.
Fenomena “sakit fisik, dua terganggu mental” di Bengkulu menjadi cerminan nyata bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa hanya dilihat dari sisi jasmani. Keseimbangan fisik dan mental perlu dijaga bersama, agar masyarakat dapat hidup lebih sehat, produktif, dan berdaya.




Komentar
Posting Komentar