CERITA DONI PRATAMA, DITUDING OJOL GADUNGAN USAI BERTEMU WAPRES GIBRAN
Doni Pratama (37) mendadak jadi sorotan publik setelah dirinya muncul di Istana Wakil Presiden pada Minggu (31/8/2025).
Ia bersama tujuh driver ojek online (ojol) lainnya diundang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk berdialog mengenai kasus meninggalnya Affan Kurniawan (21), pengemudi ojol yang dilindas kendaraan taktis Brimob saat kerusuhan di Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).Undangan itu membuatnya jadi bulan-bulanan di media sosial.
Tak sedikit warganet menuding dirinya bukan ojol sungguhan, bahkan menyebutnya “ojol gadungan” yang dipilih hanya demi pencitraan pemerintah.
Bahkan, salah satu dari ojol itu juga dituding sebagai anggota Polri atau TNI.
Doni memastikan dirinya memang driver ojol aktif. Ia bergabung dengan Indrive sejak 2020, setahun setelah aplikasi transportasi asal Rusia itu beroperasi di Indonesia.
Sehari-hari ia menggantungkan nafkah keluarga dari hasil menarik penumpang melalui aplikasi meski dibarengi kerjaan sambilan lainnya.
“Bisa dibilang full time, tapi saya juga, punya sampingan lain gitu. Yang tadi saya bilang, saya punya warkop. Cuma untuk sementara ini, saya tutup karena kondisi sekarang ini dan saya juga jualan online,” kata Doni saat ditemui Kompas.com, Jumat (5/9/2025).Selain itu, Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Molis Indrive Club, komunitas motor listrik di kalangan pengemudi Indrive.
Bagi Doni, pengakuan sebagai ojol resmi seharusnya cukup dibuktikan dengan status terdaftar sebagai mitra aplikasi, bukan dengan keanggotaan di asosiasi atau serikat tertentu.
Doni menilai tudingan bahwa dirinya bukan pengemudi ojol bermula dari pernyataan salah satu tokoh Garda Indonesia. Doni kecewa karena seolah-olah ada standar ganda soal siapa yang diakui sebagai driver.
“Apakah kita harus daftar di semua komunitas? Itu baru diakuin gitu dan apakah kita harus masuk asosiasi atau serikat pekerja ojol? Kan enggak gitu,” ujar dia.
Meski begitu, ia menegaskan tidak ada kewajiban hukum yang mengharuskan pengemudi ojol menjadi anggota asosiasi.
“Memang saya bukan anggota, tapi kan tidak ada mau wajibnya ke sana,” kata dia.
Diundang ke Istana Wapres
Soal undangan ke Istana Wapres, Doni mengaku tidak tahu-menahu soal mekanisme seleksi.
Ia hanya ditunjuk langsung oleh pihak Indrive karena dianggap aktif dan kerap hadir dalam kegiatan resmi perusahaan.
“Kemarin itu saya memang dihubungi oleh pihak Indrive, mereka menelepon saya untuk menghadiri acara tersebut,” kata Doni.
Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk mewakili seluruh driver ojol, melainkan hanya mewakili pengemudi Indrive.
Dalam pertemuan dengan Gibran, Doni bahkan sempat mengajukan pertanyaan langsung soal proses hukum kasus Affan.
Ia menanyakan keabsahan status tujuh tersangka yang diumumkan kepolisian.
“Saya tanya sama Pak Wapres, 'Pak maaf, apakah memang benar tujuh tersangka itu yang terjadi?'. Karena kita warga, netizen meragukan kan tidak jelas, apakah benar atau tidak. Pak Wapres cuma menjawab intinya, 'ikuti saja, proses hukum akan dijalani secara transparan, tolong percaya dulu sama pemerintah',” ucap Doni menirukan percakapannya dengan Gibran.
Selain itu, driver ojol juga mengusulkan agar pemerintah memberi subsidi berupa BPJS Ketenagakerjaan untuk mitra ojol, serta mendesak adanya payung hukum yang jelas bagi profesi pengemudi aplikasi.
Berdampak ke keluarga
Meski sudah berulang kali mengklarifikasi, tudingan sebagai “ojol gadungan” tetap membekas di hati Doni. Menurut dia, dampak terberat justru dirasakan keluarganya.
“Keluarga saya, istri anak saya nge-drop. Walaupun mungkin mereka tidak menunjukkan kesedihan atau apa, tapi dari segi kesehatan, ini nge-drop banget,” kata Doni.
“Anak saya mungkin diem, awalnya enggak ini. Tapi dia juga akhirnya bicara, bahwa teman-temannya bilang, bahwa ayah kamu ada di sini, ada gini. Dan dia nggak bisa jawab apa-apa. Saya cuma khawatir ya, mentalnya gitu, karena anak saya ini kan masih panjang,” imbuh dia.
Ia berharap tudingan semacam itu berhenti dan orang yang terlanjur menuduh bisa meminta maaf, bukan hanya kepadanya, tetapi juga kepada komunitas ojol di seluruh Indonesia.
Sebelum menjadi driver ojol, Doni memiliki pengalaman sebagai wartawan foto. Lulusan broadcasting Bina Sarana Informatika itu sempat bekerja di media hiburan sejak 2012.
Baca juga: Kondisi Terkini Depan Gedung DPR Hari Ini Jelang Demo 5 September
“Awalnya di digital dulu, akhirnya gabung di tabloid juga, ya tugas saya hanya mendokumentasikan acara-acara hiburan, jadi konser musik, kasus-kasus artis,” ujarnya.
Kini, Doni memilih fokus menjadi pengemudi Indrive sembari mengembangkan konten di media sosial.
Ia aktif di TikTok dan YouTube dengan tema dunia ojol, bahkan sempat membuat program Driver Undercover yang mewawancarai sesama pengemudi.
Bagi Doni, undangan ke Istana Wapres sekaligus membuka mata banyak orang bahwa ia memang ojol sungguhan.
Meski sempat diserang di media sosial, ia berusaha mengambil sisi positif dari tudingan tersebut.
“Ada positif negatif pasti ada, gitu, ya, dibilang terganggu, ganggu, tapi, alhamdulillah, follower jadi nambah,” tutur dia.



Komentar
Posting Komentar