Dendam Berdarah: Pelajar SMP di Lampung Tega Tikam Teman Sekelas hingga Tewas
Lampung —
Suasana duka menyelimuti sebuah desa di Kabupaten Lampung Tengah setelah seorang pelajar SMP berinisial RA (14) tega menghabisi nyawa teman sekelasnya, DF (14). Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin sore (30/9/2025) tak jauh dari lingkungan sekolah keduanya.Menurut keterangan saksi mata, peristiwa bermula setelah jam sekolah usai. Korban DF bersama beberapa teman sempat bercanda di halaman sekolah. Namun, pelaku RA tampak gelisah dan tidak banyak bicara.
“Awalnya biasa saja, mereka sempat ngobrol. Tiba-tiba RA langsung mengeluarkan pisau kecil dari tasnya dan menusuk DF. Semua kaget dan teriak,” ujar AR (13), teman sebaya yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Korban yang terkena tusukan di bagian dada sempat berusaha lari, namun ambruk beberapa meter dari lokasi. Warga yang mendengar keributan berusaha menolong dan segera membawa DF ke puskesmas, tetapi nyawanya tak tertolong.
Hasil penyelidikan sementara, motif pelaku dipicu rasa sakit hati yang menumpuk. Beberapa teman sekelas menyebut DF kerap menggoda RA dengan sebutan-sebutan tertentu yang dianggap merendahkan.
“DF anaknya memang suka bercanda, tapi kadang kelewatan. RA ini anaknya pendiam, jadi mungkin sakit hati dipendam lama,” kata seorang guru yang enggan disebut namanya.
Kapolsek setempat, AKP Budi Santoso, mengonfirmasi pihaknya sudah mengamankan pelaku.
“Pelaku masih berstatus anak di bawah umur, namun tetap kami proses sesuai hukum yang berlaku. Dugaan sementara, motif dendam akibat ejekan. Saat ini kami juga memeriksa keluarga dan pihak sekolah untuk melengkapi keterangan,” jelas AKP Budi.
Pisau yang digunakan pelaku kini diamankan sebagai barang bukti. Polisi juga sedang mendalami dari mana RA mendapatkan senjata tajam tersebut.
Kepala sekolah SMP tempat keduanya menimba ilmu mengaku sangat terkejut dengan peristiwa ini.
“Kami tidak menyangka anak-anak kami bisa sejauh itu. Mereka sebelumnya hanya terlibat adu mulut ringan. Sekolah berduka atas kepergian DF dan kami siap bekerja sama dengan pihak berwenang,” ungkapnya.
Sementara itu, warga desa setempat berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama. “Anak-anak sekarang gampang emosi. Perlu pengawasan ekstra dari guru dan orang tua. Jangan sampai kejadian ini terulang,” kata Samsul (45), warga sekitar lokasi.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Lampung, Siti Rahmawati, menyoroti pentingnya pendidikan karakter di sekolah.
“Usia remaja adalah masa pencarian jati diri. Tanpa bimbingan yang tepat, mereka bisa mudah terjebak dalam kekerasan. Kami berharap aparat tetap memperhatikan hak-hak pelaku sebagai anak, namun juga memberi efek jera,” tegasnya.
Suasana haru menyelimuti rumah duka. Ratusan warga ikut mengantar jenazah korban ke pemakaman. Ayah korban, dengan wajah penuh kesedihan, berharap keadilan ditegakkan.
“Anak saya baru kelas 2 SMP, cita-citanya ingin jadi polisi. Tapi sekarang dia pergi terlalu cepat. Kami serahkan semuanya ke pihak berwajib,” ungkapnya lirih.
Kasus ini membuka kembali peringatan tentang tingginya angka kekerasan antar-pelajar di Indonesia. Faktor ejekan, perundungan, hingga minimnya pengendalian emosi menjadi penyebab yang kerap berujung fatal.
Pakar pendidikan anak menilai, peristiwa di Lampung ini adalah alarm bagi sekolah dan orang tua untuk lebih serius dalam membangun komunikasi dengan anak serta memperkuat pendidikan moral sejak dini.




Komentar
Posting Komentar