Tangisan di Malam Hari Bongkar Aib Mahasiswi: Bayi Hasil Hubungan Terlarang Dibuang, Ibu Kandung Akui Malu
Barito Utara, Kalimantan Tengah—
Malam itu, suasana kampung yang biasanya tenang mendadak berubah mencekam. Tangisan lirih seorang bayi terdengar dari sebuah kantong plastik hitam di pinggir jalan. Warga yang penasaran sontak gemetar begitu melihat isinya: seorang bayi mungil, tubuhnya masih berlumuran darah, tergeletak kedinginan.“Awalnya saya kira suara kucing. Pas saya buka, astaga… bayi! Badannya menggigil, tali pusarnya masih nempel,” ujar Rudi (34), warga yang pertama kali menemukan bayi tersebut, dengan wajah pucat menahan emosi.
Panik dan Geger di Pemukiman
Dalam sekejap, warga berbondong-bondong mendekat. Tangis bayi yang semakin lemah membuat suasana semakin haru. Beberapa ibu langsung menangis histeris, sementara yang lain sigap membawa bayi itu ke rumah sakit.
“Kalau terlambat sedikit saja, mungkin bayinya nggak selamat. Ini benar-benar kejam,” ungkap Siti (40), tetangga yang ikut menolong.
Di rumah sakit, bayi perempuan itu berhasil diselamatkan setelah dirawat intensif. Kondisinya kini mulai stabil, meski dokter menyebut sempat mengalami hipotermia akibat ditinggalkan begitu saja di tempat terbuka.
Polisi Ungkap Identitas Ibu
Keesokan harinya, kepolisian bergerak cepat. Hasil penyelidikan mengarah pada seorang mahasiswi berinisial N (21), yang tinggal di kos tak jauh dari lokasi penemuan. Saat diamankan, N tampak pucat dan terus menunduk.
“Ya, saya yang melahirkan… saya yang buang,” ucap N lirih di hadapan penyidik, sebelum akhirnya menangis terisak.
N mengaku hamil akibat hubungan terlarang dengan kekasihnya, R (22). Selama sembilan bulan, ia menutupi kehamilannya dengan pakaian longgar dan jarang keluar kos. Ia melahirkan sendirian, tanpa bantuan medis. Dalam kondisi panik dan takut diketahui keluarga, N nekat membuang bayi yang baru dilahirkannya.
“Aku malu… keluarga pasti hancur kalau tahu. Aku nggak sanggup menanggung aib ini,” katanya.
Kekasih Diduga Lepas Tangan
Polisi kini juga tengah memeriksa R, sang kekasih. Dugaan sementara, R mengetahui kehamilan N, tetapi memilih tidak bertanggung jawab.
“Kami sedang dalami peran sang kekasih. Apakah ada unsur perencanaan bersama atau hanya kelalaian,” ujar Kapolres setempat.
Warga Murka dan Menangis
Kasus ini memicu amarah dan kesedihan warga. Banyak yang tidak menyangka seorang mahasiswi yang dikenal pendiam tega membuang darah dagingnya sendiri.
“Kalau dia takut, kenapa nggak titip ke panti asuhan? Kenapa harus dibuang kayak sampah?” geram Pak Umar (55), tokoh masyarakat setempat.
Sementara itu, beberapa ibu di sekitar lokasi penemuan masih trauma. “Bayinya cantik sekali, kasihan… padahal banyak orang yang ingin punya anak tapi belum dikasih. Ini malah dibuang begitu saja,” kata seorang ibu sambil meneteskan air mata.
Pemerintah Turun Tangan
Dinas Sosial memastikan akan menanggung perawatan bayi dan memberikan pendampingan psikologis bagi N. Mereka menegaskan kasus ini harus jadi pelajaran penting, terutama bagi generasi muda.
“Rasa malu dan takut tidak bisa dijadikan alasan mengorbankan nyawa anak. Kejadian ini menunjukkan pentingnya pendidikan moral, kesehatan reproduksi, dan komunikasi dalam keluarga,” tegas seorang pejabat dinas.
Jerat Hukum Menanti
Kini, N ditahan dan terancam dijerat pasal berlapis terkait penelantaran serta percobaan pembunuhan anak. Hukuman berat menantinya.
Meski begitu, bagi sebagian warga, luka yang ditinggalkan dari peristiwa ini lebih dari sekadar perkara hukum. Tangisan bayi yang nyaris meregang nyawa itu masih terngiang di telinga mereka, menjadi pengingat betapa rapuhnya nyawa seorang anak di tangan orang tuanya sendiri.


.jpeg)


Komentar
Posting Komentar